Showing posts with label mp3 kikay. Show all posts
Showing posts with label mp3 kikay. Show all posts



Angklung
adalah alat musik tradisional Indonesia yang berasal dar Tanah Sunda, terbuat dari bambu, yang dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil. Laras (nada) alat musik angklung sebagai musik tradisi Sunda kebanyakan adalah salendro dan pelog.

Asal MuasaL Angklung



Dalam rumpun kesenian yang menggunakan alat musik dari bambu dikenal jenis kesenian yang disebut angklung. Adapun jenis bambu yang biasa digunakan sebagai alat musik tersebut adalah awi wulung (bambu berwarna hitam) dan awi temen (bambu berwarna putih). Purwa rupa alat musik angklung; tiap nada (laras) dihasilkan dari bunyi tabung bambunya yang berbentuk wilahan (batangan) setiap ruas bambu dari ukuran kecil hingga besar.
Angklung merupakan alat musik yang berasal dari Jawa Barat. Angklung gubrag di Jasinga, Bogor, adalah salah satu yang masih hidup sejak lebih dari 400 tahun lampau. Kemunculannya berawal dari ritus padi. Angklung diciptakan dan dimainkan untuk memikat Dewi Sri turun ke Bumi agar tanaman padi rakyat tumbuh subur.
Dikenal oleh masyarakat sunda sejak masa kerajaan Sunda, di antaranya sebagai penggugah semangat dalam pertempuran. Fungsi angklung sebagai pemompa semangat rakyat masih terus terasa sampai pada masa penjajahan, itu sebabnya pemerintah Hindia Belanda sempat melarang masyarakat menggunakan angklung, pelarangan itu sempat membuat popularitas angklung menurun dan hanya di mainkan oleh anak- anak pada waktu itu.



Asal usul terciptanya musik bambu, seperti angklung berdasarkan pandangan hidup masyarakat Sunda yang agraris dengan sumber kehidupan dari padi (pare) sebagai makanan pokoknya. Hal ini melahirkan mitos kepercayaan terhadap Nyai Sri Pohaci sebagai lambang Dewi Padi pemberi kehidupan (hirup-hurip).



Perenungan masyarakat Sunda dahulu dalam mengolah pertanian (tatanen) terutama di sawah dan huma telah melahirkan penciptaan syair dan lagu sebagai penghormatan dan persembahan terhadap Nyai Sri Pohaci, serta upaya nyinglar (tolak bala) agar cocok tanam mereka tidak mengundang malapetaka, baik gangguan hama maupun bencana alam lainnya. Syair lagu buhun untuk menghormati Nyi Sri Pohaci tersebut misalnya:



Si Oyong-oyong
Sawahe si waru doyong
Sawahe ujuring eler
Sawahe ujuring etan
Solasi suling dami
Menyan putih pengundang dewa
Dewa-dewa widadari
Panurunan si patang puluh



Selanjutnya lagu-lagu persembahan terhadap Dewi Sri tersebut disertai dengan pengiring bunyi tabuh yang terbuat dari batang-batang bambu yang dikemas sederhana yang kemudian lahirlah struktur alat musik bambu yang kita kenal sekarang bernama angklung. Perkembangan selanjutnya dalam permainan Angklung tradisi disertai pula dengan unsur gerak dan ibing (tari) yang ritmis (ber-wirahma) dengan pola dan aturan=aturan tertentu sesuai dengan kebutuhan upacara penghormatan padi pada waktu mengarak padi ke lumbung (ngampih pare, nginebkeun), juga pada saat-saat mitembeyan, mengawali menanam padi yang di sebagian tempat di Jawa Barat disebut ngaseuk.



Demikian pula pada saat pesta panen dan seren taun dipersembahkan permainan angklung. Terutama pada penyajian Angklung yang berkaitan dengan upacara padi, kesenian ini menjadi sebuah pertunjukan yang sifatnya arak-arakan atau helaran, bahkan di sebagian tempat menjadi iring-iringan Rengkong dan Dongdang serta Jampana (usungan pangan) dan sebagainya.



Dalam perkembangannya, angklung berkembang dan menyebar ke seantero Jawa, lalu ke Kalimantan dan Sumatera. Pada 1908 tercatat sebuah misi kebudayaan dari Indonesia ke Thailand, antara lain ditandai penyerahan angklung, lalu permainan musik bambu ini pun sempat menyebar di sana.
Bahkan, sejak 1966, Udjo Ngalagena —tokoh angklung yang mengembangkan teknik permainan berdasarkan laras-laras pelog, salendro, dan madenda— mulai mengajarkan bagaimana bermain angklung kepada banyak orang dari berbagai komunitas.



Angklung KANEKES



Angklung di daerah Kanekes (kita sering menyebut mereka orang Baduy) digunakan terutama karena hubungannya dengan ritus padi, bukan semata-mata untuk hiburan orang-orang. Angklung digunakan atau dibunyikan ketika mereka menanam padi di huma (ladang). Menabuh angklung ketika menanam padi ada yang hanya dibunyikan bebas (dikurulungkeun), terutama di Kajeroan (Tangtu; Baduy Jero), dan ada yang dengan ritmis tertentu, yaitu di Kaluaran (Baduy Luar). Meski demikian, masih bisa ditampilkan di luar ritus padi tetapi tetap mempunyai aturan, misalnya hanya boleh ditabuh hingga masa ngubaran pare (mengobati padi), sekitar tiga bulan dari sejak ditanamnya padi. Setelah itu, selama enam bulan berikutnya semua kesenian tidak boleh dimainkan, dan boleh dimainkan lagi pada musim menanam padi berikutnya. Menutup angklung dilaksanakan dengan acara yang disebut musungkeun angklung, yaitu nitipkeun (menitipkan, menyimpan) angklung setelah dipakai.



Dalam sajian hiburan, Angklung biasanya diadakan saat terang bulan dan tidak hujan. Mereka memainkan angklung di buruan (halaman luas di pedesaan) sambil menyanyikan bermacam-macam lagu, antara lain: Lutung Kasarung, Yandu Bibi, Yandu Sala, Ceuk Arileu, Oray-orayan, Dengdang, Yari Gandang, Oyong-oyong Bangkong, Badan Kula, Kokoloyoran, Ayun-ayunan, Pileuleuyan, Gandrung Manggu, Rujak Gadung, Mulung Muncang, Giler, Ngaranggeong, Aceukna, Marengo, Salak Sadapur, Rangda Ngendong, Celementre, Keupat Reundang, Papacangan, dan Culadi Dengdang. Para penabuh angklung sebanyak delapan orang dan tiga penabuh bedug ukuran kecil membuat posisi berdiri sambil berjalan dalam formasi lingkaran. Sementara itu yang lainnya ada yang ngalage (menari) dengan gerakan tertentu yang telah baku tetapi sederhana. Semuanya dilakukan hanya oleh laki-laki. Hal ini berbeda dengan masyarakat Daduy Dalam, mereka dibatasi oleh adat dengan berbagai aturan pamali (pantangan; tabu), tidak boleh melakukan hal-hal kesenangan duniawi yang berlebihan. Kesenian semata-mata dilakukan untuk keperluan ritual.



Nama-nama angklung di Kanekes dari yang terbesar adalah: indung, ringkung, dongdong, gunjing, engklok, indung leutik, torolok, dan roel. Roel yang terdiri dari 2 buah angklung dipegang oleh seorang. Nama-nama bedug dari yang terpanjang adalah: bedug, talingtit, dan ketuk. Penggunaan instrumen bedug terdapat perbedaan, yaitu di kampung-kampung Kaluaran mereka memakai bedug sebanyak 3 buah. Di Kajeroan; kampung Cikeusik, hanya menggunakan bedug dan talingtit, tanpa ketuk. Di Kajeroan, kampung Cibeo, hanya menggunakan bedug, tanpa talingtit dan ketuk.



Di Kanekes yang berhak membuat angklung adalah orang Kajeroan (Tangtu; Baduy Jero). Kajeroan terdiri dari 3 kampung, yaitu Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik. Di ketiga kampung ini tidak semua orang bisa membuatnya, hanya yang punya keturunan dan berhak saja yang mengerjakannya di samping adanya syarat-syarat ritual. Pembuat angklung di Cikeusik yang terkenal adalah Ayah Amir (59), dan di Cikartawana Ayah Tarnah. Orang Kaluaran membeli dari orang Kajeroan di tiga kampung tersebut.



Angklung Dogdog Lojor



Kesenian dogdog lojor terdapat di masyarakat Kasepuhan Pancer Pangawinan atau kesatuan adat Banten Kidul yang tersebar di sekitar Gunung Halimun (berbatasan dengan Sukabumi, Bogor, dan Lebak). Meski kesenian ini dinamakan dogdog lojor, yaitu nama salah satu instrumen di dalamnya, tetapi di sana juga digunakan angklung karena kaitannya dengan acara ritual padi. Setahun sekali, setelah panen seluruh masyarakat mengadakan acara Serah Taun atau Seren Taun di pusat kampung adat. Pusat kampung adat sebagai tempat kediaman kokolot (sesepuh) tempatnya selalu berpindah-pindah sesuai petunjuk gaib.



Tradisi penghormatan padi pada masyarakat ini masih dilaksanakan karena mereka termasuk masyarakat yang masih memegang teguh adat lama. Secara tradisi mereka mengaku sebagai keturunan para pejabat dan prajurit keraton Pajajaran dalam baresan Pangawinan (prajurit bertombak). Masyarakat Kasepuhan ini telah menganut agama Islam dan agak terbuka akan pengaruh modernisasi, serta hal-hal hiburan kesenangan duniawi bisa dinikmatinya. Sikap ini berpengaruh pula dalam dalam hal fungsi kesenian yang sejak sekitar tahun 1970-an, dogdog lojor telah mengalami perkembangan, yaitu digunakan untuk memeriahkan khitanan anak, perkawinan, dan acara kemeriahan lainnya. Instrumen yang digunakan dalam kesenian dogdog lojor adalah 2 buah dogdog lojor dan 4 buah angklung besar. Keempat buah angklung ini mempunyai nama, yang terbesar dinamakan gonggong, kemudian panembal, kingking, dan inclok. Tiap instrumen dimainkan oleh seorang, sehingga semuanya berjumlah enam orang.



Lagu-lagu dogdog lojor di antaranya Bale Agung, Samping Hideung, Oleng-oleng Papanganten, Si Tunggul Kawung, Adulilang, dan Adu-aduan. Lagu-lagu ini berupa vokal dengan ritmis dogdog dan angklung cenderung tetap.



Angklung Gubrag



Angklung gubrag terdapat di kampung Cipining, kecamatan Cigudeg, Bogor. Angklung ini telah berusia tua dan digunakan untuk menghormati dewi padi dalam kegiatan melak pare (menanam padi), ngunjal pare (mengangkut padi), dan ngadiukeun (menempatkan) ke leuit (lumbung).
Dalam mitosnya angklung gubrag mulai ada ketika suatu masa kampung Cipining mengalami musim paceklik.



Angklung Badeng



Badeng merupakan jenis kesenian yang menekankan segi musikal dengan angklung sebagai alat musiknya yang utama. Badeng terdapat di Desa Sanding, Kecamatan Malangbong, Garut. Dulu berfungsi sebagai hiburan untuk kepentingan dakwah Islam. Tetapi diduga badeng telah digunakan masyarakat sejak lama dari masa sebelum Islam untuk acara-acara yang berhubungan dengan ritual penanaman padi. Sebagai seni untuk dakwah badeng dipercaya berkembang sejak Islam menyebar di daerah ini sekitar abad ke-16 atau 17. Pada masa itu penduduk Sanding, Arpaen dan Nursaen, belajar agama Islam ke kerajaan Demak. Setelah pulang dari Demak mereka berdakwah menyebarkan agama Islam. Salah satu sarana penyebaran Islam yang digunakannya adalah dengan kesenian badeng.



Angklung yang digunakan sebanyak sembilan buah, yaitu 2 angklung roel, 1 angklung kecer, 4 angklung indung dan angklung bapa, 2 angklung anak; 2 buah dogdog, 2 buah terbang atau gembyung, serta 1 kecrek. Teksnya menggunakan bahasa Sunda yang bercampur dengan bahasa Arab. Dalam perkembangannya sekarang digunakan pula bahasa Indonesia. Isi teks memuat nilai-nilai Islami dan nasihat-nasihat baik, serta menurut keperluan acara. Dalam pertunjukannya selain menyajikan lagu-lagu, disajikan pula atraksi kesaktian, seperti mengiris tubuh dengan senjata tajam.



Buncis



Buncis merupakan seni pertunjukan yang bersifat hiburan, di antaranya terdapat di Baros (Arjasari, Bandung). Pada mulanya buncis digunakan pada acara-acara pertanian yang berhubungan dengan padi. Tetapi pada masa sekarang buncis digunakan sebagai seni hiburan. Hal ini berhubungan dengan semakin berubahnya pandangan masyarakat yang mulai kurang mengindahkan hal-hal berbau kepercayaan lama. Tahun 1940-an dapat dianggap sebagai berakhirnya fungsi ritual buncis dalam penghormatan padi, karena sejak itu buncis berubah menjadi pertunjukan hiburan. Sejalan dengan itu tempat-tempat penyimpanan padi pun (leuit; lumbung) mulai menghilang dari rumah-rumah penduduk, diganti dengan tempat-tempat karung yang lebih praktis, dan mudah dibawa ke mana-mana. Padi pun sekarang banyak yang langsung dijual, tidak disimpan di lumbung. Dengan demikian kesenian buncis yang tadinya digunakan untuk acara-acara ngunjal (membawa padi) tidak diperlukan lagi.



Nama kesenian buncis berkaitan dengan sebuah teks lagu yang terkenal di kalangan rakyat, yaitu cis kacang buncis nyengcle..., dst. Teks tersebut terdapat dalam kesenian buncis, sehingga kesenian ini dinamakan buncis.
Instrumen yang digunakan dalam kesenian buncis adalah 2 angklung indung, 2 angklung ambrug, angklung panempas, 2 angklung pancer, 1 angklung enclok. Kemudian 3 buah dogdog, terdiri dari 1 talingtit, panembal, dan badublag. Dalam perkembangannya kemudian ditambah dengan tarompet, kecrek, dan goong. Angklung buncis berlaras salendro dengan lagu vokal bisa berlaras madenda atau degung. Lagu-lagu buncis di antaranya: Badud, Buncis, Renggong, Senggot, Jalantir, Jangjalik, Ela-ela, Mega Beureum. Sekarang lagu-lagu buncis telah menggunakan pula lagu-lagu dari gamelan, dengan penyanyi yang tadinya laki-laki pemain angklung, kini oleh wanita khusus untuk menyanyi.



Dari beberapa jenis musik mambu di Jawa Barat (Angklung) di atas, adalah beberapa contoh saja tentang seni pertunjukan angklung, yang terdiri atas: Angklung Buncis (Priangan/Bandung), Angklung Badud (Priangan Timur/Ciamis), Angklung Bungko (Indramayu), Angklung Gubrag (Bogor), Angklung Ciusul (Banten), Angklung Dog dog Lojor (Sukabumi), Angklung Badeng (Malangbong, Garut), dan Angklung Padaeng yang identik dengan Angklung Nasional dengan tangga nada diatonis, yang dikembangkan sejak tahun 1938. Angklung khas Indonesia ini berasal dari pengembangan angklung Sunda. Angklung Sunda yang bernada lima (salendro atau pelog) oleh Daeng Sutigna alias Si Etjle (1908—1984) diubah nadanya menjadi tangga nada Barat (solmisasi) sehingga dapat memainkan berbagai lagu lainnya. Hasil pengembangannya kemudian diajarkan ke siswa-siswa sekolah dan dimainkan secara orkestra besar.

Incubus-i miss u

DOWNLOAD HERE

To see you when I wake up
Is a gift I didnt think could be real.
To know that you feel the same as I do
Is a three-fold, utopian dream.
You do something to me that I cant explain.
So would I be out of line if I said,

***
I miss you.(? )
I see your picture, I smell your skin on the empty pillow next to mine.
You have only been gone ten days, but already Im wasting away.
I know Ill see you again
Whether far or soon.
But I need you to know that I care
And I miss you.

Rihanna - unfaithful


Download With new VERSION
Download ORIGINAL version

Story of my life
Searching for the right
But it keeps avoiding me
Sorrow in my soul
Cause it seems that wrong
Really loves my company

He's more than a man
And this is more than love
The reason that the sky is blue
The clouds are rolling in
Because I'm gone again
And to him I just can't be true

And I know that he knows I'm unfaithful
And it kills him inside
To know that I am happy with some other guy
I can see him dying

>>
I don't wanna do this anymore
I don't wanna be the reason why
Everytime I walk out the door
I see him die a little more inside
I don't wanna hurt him anymore
I don't wanna take away his life
I don't wanna be...
A murderer

I feel it in the air
As I'm doing my hair
Preparing for another date
A kiss upon my cheek
As he reluctantly
Asks if I'm gonna be out late
I say I won't be long
Just hanging with the girls
A lie I didn't have to tell
Because we both know
Where I'm about to go
And we know it very well

Cause I know that he knows I'm unfaithful
And it kills him inside
To know that I am happy with some other guy
I can see him dying

I don't wanna do this anymore
I don't wanna be the reason why
Everytime I walk out the door
I see him die a little more inside
I don't wanna hurt him anymore
I don't wanna take away his life
I don't wanna be...
A murderer

Our love, his trust
I might as well take a gun and put it to his head
Get it over with
I don't wanna do this
Anymore
Uh
Anymore (anymore)

I don't wanna do this anymore
I don't wanna be the reason why
And everytime I walk out the door
I see him die a little more inside
And I don't wanna hurt him anymore
I don't wanna take away his life
I don't wanna be...
A murderer (a murderer)

No no no no

Yeah yeah yeah

Nidji - Child

DownLoad at HERE

I am the paint
Electric pain bolt of thunder in the rain

I'm the blood
I'm the key
You are evergreen who blessed in union
Let them born in to this world
Let them sing into the sky

***
I will be fading
As your child
As your child

Dont let go
Dont be frightened
Dont be scared and dont be late

I am one
I am child
I'm the saint who marches in love

Nidji - Shadows


DOWNLOAD at HERE

I am one
I am child
I'm the saint who marches in love
hey you got to be honest
you got to be the only one
you got to be the one

hey you got to stay awake
you got to start to save the world
you got to be alert

>> shadows.. shadows..
in the world we living on
shadows.. shadows..
in the world we living on

shadows .. shadows..
we’re alone in the world we own
shadows .. shadows..
we’re alone in the world we own

hey the killer of the world
the money blinded junky man
the loveless son of man
hey nothing isn’t right
the future is in so much pain
the lovers are in vein

back to >>

is this place where we fly in
is this place where we don’t win
is this the shadows that lived in our profit
is this the shadows that we all wanted

and our life are burned by the fire
of our sins and tonight
i believe that we won’t win

here in the cities
shadows on the run
nothing is real
nothing can’t be done

i am the shadows
i’m the only one
make me believe
that nothing can be done

Indonesian POP songs

KERISPATIH
Joeniar Arief
Five Minutes
KOTAK
Hijau Daun
Kingkong
Derby Romero
PASTO
DRIVE
Koes Plus
Vidi
J'rock
Dewa
D'masive
Sheila on 7
Project pop
Tiket
BCL
Dewi Lestari
Lyla
Sinden Tosca


D'Masiv


Lyla

Want To KNOW about EMO??

EMO

Emo ((pronounced /ˈiːmoʊ/)) is a genre of music that originated from hardcore punk [1] and later adopted pop punk influences when it became mainstream in the United States.

It has since come to describe several variations of music with common roots and associated fashion and stereotypes.

In the mid-1980s, the term emo described a subgenre of hardcore punk which stemmed from the Washington, D.C. music scene. In later years, the term emocore, short for "emotional hardcore", was also used to describe the emotional performances of bands in the Washington, D.C. scene and some of the offshoot regional scenes such as Rites of Spring, Embrace, One Last Wish, Beefeater, Gray Matter, Fire Party, and later, Moss Icon

In the mid-1990s, the term emo began to refer to the indie scene that followed the influences of Fugazi, which itself was an offshoot of the first wave of emo. Bands including Sunny Day Real Estate, Far and Texas Is the Reason had a more indie rock style of emo, more melodic and less chaotic. The so-called "indie emo" scene survived until the late 1990s, when many of the bands either disbanded or shifted to mainstream styles. As the remaining indie emo bands entered the mainstream, newer bands began to emulate the mainstream style.

Today popular bands like Fall Out Boy, My Chemical Romance, Panic at the Disco, and Paramore are described as emo.

History

First wave (1985–1994)

In 1985 in Washington, D.C., Ian MacKaye and Guy Picciotto, veterans of the DC hardcore music scene, took their music in a more personal direction with a far greater sense of experimentation, bringing forth MacKaye's Embrace and Picciotto's Rites of Spring. The style of music developed by Embrace and Rites of Spring soon became its own sound. As a result of the renewed spirit of experimentation and musical innovation that developed the new scene, the summer of 1985 soon came to be known in the scene as "Revolution Summer".

Where the term emo actually originated is uncertain, but members of Rites of Spring mentioned in a 1985 interview in Flipside Magazine that some of their fans had started using the term to describe their music.

Within a short time, the D.C. emo sound began to influence other bands such as Moss Icon, Nation of Ulysses, Dag Nasty, Soulside, Shudder to Think, Fire Party, Marginal Man, Foundation and Gray Matter, many of which were released on MacKaye's Dischord Records.

At the same time, in the New York/New Jersey area, bands such as Native Nod, Policy of 3, Rye Coalition, and Quicksand were feeling the same impulse. Many of these bands were involved with the ABC No Rio club scene in New York, itself a response to the violence and stagnation in the scene and with the bands that played at CBGBs, the only other small venue for hardcore in New York at the time.

Following the disbanding of Embrace in 1986, MacKaye established the influential group Fugazi, and was soon joined by Picciotto. While Fugazi itself is not typically categorized as emo, the band's music is cited as an influence by popular second-wave bands such as Sunny Day Real Estate, Far, Braid, and Jimmy Eat World.

Second wave (1994–2000)

As Fugazi and the Dischord Records scene became increasingly popular in the indie underground of the early 1990s, new bands began to spring up.

Diary was released by Sunny Day Real Estate in 1994. The band performed on TV shows, including The Jon Stewart Show.

Inspired by Fugazi and Sunny Day Real Estate, Jimmy Eat World released the album Static Prevails in 1996 on Capitol Records.

A Cornerstone of the late-Nineties emo movement was Weezer's 1996 album Pinkerton, which was to be considered one of the defining emo records of the 90s and was said to have introduced emo to a larger and more mainstream audience.

In 1997, Deep Elm Records released the first installment in a series of compilations called Emo Diaries, featuring tracks from Jimmy Eat World, Samiam, and Jejune.

Mainstream emo (2000–present)

While Jimmy Eat World had played emocore-style music early in their career, by the time of the release of their 2001 album Bleed American, the band had downplayed its emo influences, releasing more pop-oriented singles such as "The Middle" and "Sweetness". Newer bands that sounded like Jimmy Eat World (and, in some cases, like the more melodic emo bands of the late 90s) were soon included in the genre.

2003 saw the success of Chris Carrabba, the former singer of emo band Further Seems Forever, and his project Dashboard Confessional. Carraba found himself part of the emerging "popular" emo scene. Carrabba's music featured lyrics founded in deep diary-like outpourings of emotion. While certainly emotional, the new "emo" had a far greater appeal amongst adolescents than its earlier incarnations.

At the same time, use of the term "emo" expanded beyond the musical genre, which added to the confusion surrounding the term. The word "emo" became associated with open displays of strong emotion. Common fashion styles and attitudes that were becoming idiomatic of fans of similar "emo" bands also began to be referred to as "emo." As a result, bands that were loosely associated with "emo" trends or simply demonstrated emotion began to be referred to as emo.

In a strange twist, screamo, a more aggressive sub-genre of emo that began in the early 90s, also had a reformulation of sound and has found greater popularity in recent years through bands such as Glassjaw.

The difficulty in defining "emo" as a genre may have started at the very beginning. In a 2003 interview by Mark Prindle, Guy Picciotto of Fugazi and Rites of Spring was asked how he felt about "being the creator of the emo genre." He responded:

I don't recognize that attribution. I've never recognized "emo" as a genre of music. I always thought it was the most retarded term ever. I know there is this generic commonplace that every band that gets labeled with that term hates it. They feel scandalized by it. But honestly, I just thought that all the bands I played in were punk rock bands. The reason I think it's so stupid is that—what, like the Bad Brains weren't emotional? What—they were robots or something? It just doesn't make any sense to me.

Fashion and stereotype



Long fringe (bangs) brushed to one side

Today emo is commonly tied to both fashion and music, and the term "emo" is sometimes stereotyped with tight jeans on males and females alike, long fringe (bangs) brushed to one side of the face or over one or both eyes, dyed black, straight hair, tight t-shirts (sometimes short sleeved) which often bear the names of emo bands (or other designer shirts), studded belts, belt buckles, canvas sneakers or skate shoes or other black shoes (often old and beaten up) and thick, black horn-rimmed glasses. This fashion has at times been characterized as a fad.

Another example of hair characteristic of emo

In recent years the popular media has associated emo with a stereotype that includes being emotional, sensitive, shy, introverted, or angsty. It is also associated with depression, self-injury, and suicide.

Backlash

Warped Tour founder, Kevin Lyman stated that he believes there is an emo backlash saying that he sees 'i hate emo' tshirts and that there was hostility among bands on the tour towards emo groups.

In 2008, Time Magazine reported that "anti-emo" groups attacked teenagers in Mexico City, Querétaro, and Tijuana. One of Mexico's foremost critics of emo was Kristoff, a music presenter on the popular TV channel Telehit.

Gerard Way, the lead singer of My Chemical Romance stated in an interview that "emo is a pile of shit", and that his band was never emo Panic at the Disco also stated in an interview with NME: "emo is bullshit." These two bands, however, tend to be classified as emo.

Fans of emo are criticized for purported displays of emotion common in the scene. Complaints claimed that emotions were expressed in an histrionic manner.[34]

Justin Jacobs has criticised emo music of the early 2000s, arguing it became boring and generic.

Emo music has been blamed for the suicide by hanging of Hannah Bond by both the coroner at the inquest into her death and her mother, Heather Bond, after it was claimed that emo music glamorized suicide and her apparent obsession with My Chemical Romance was said to be linked to her suicide. The inquest heard that she was part of an internet "emo" cult and her Bebo page contained an image of an 'emo girl' with bloody wrists. It also heard that she had discussed the "glamour" of hanging online and had explained to her parents that her self harming was an "emo initiation ceremony". Heather Bond criticised emo fashion, saying: "There are 'emo' websites that show pink teddies hanging themselves." After the verdict was reported in NME, fans of emo music contacted the magazine to defend against accusations that it promotes self harm and suicide.

In Russia, a law has been presented at the Duma to regulate emo websites and forbid emo style at schools and government buildings, for fears of emo being a "dangerous teen trend" promoting anti-social behaviour, depression, social withdrawal and even suicide


Source: WIKIPEDIA