Showing posts with label Free MP3. Show all posts
Showing posts with label Free MP3. Show all posts

Profile Sonet 2 Band



Baru saja tampil di pentas dangdut, Ridho Rhoma dan para personil Sonet Band 2, siap membintangi film layar lebar. Sambutan positif publik atas kehadiran Sonet 2 yang dimotori Ridho Rhoma, rupanya mendorong putera sang raja dangdut, Rhoma Irama untuk melakukan gebrakan baru.


Setelah sukses menggebrak pentas dangdut dengan format band, kini Ridho dan kawan-kawan siap melebarkan sayap ke dunia akting. Sebuah cerita dan skenario film yang akan mereka bintangi pun, kini sedang digodok dan siap digarap dalam waktu dekat.


“Kalau untuk detil ceritanya belum tahu. Di sini juga kita masih bicarakan akan seperti apa. kita meeting dengan tim dari sutradara film untuk bikin film layar lebar,” ujar Ridho.


Namun mengingat perjalanan karir mereka baru seumur jagung, obsesi untuk berlaga di layar lebar dinilai terlalu dini dan berani.Apalagi keenam awak Sonet 2 ini masih minim pengalaman berakting. Selain Ridho, tidak satu pun dari mereka yang pernah duduk di kelas akting.


“Kalau pribadi memang pingin main film. juga ini kesempatan baguslah buat kita. sebelumnya juga banyak penyanyi yang bikin film. jadi ya memanfaatkan kesempatan yang ada aja,” ungkap Ridho.
Walau modal pengalaman dan ilmu akting mereka masih minim, namun Ridho dan kawan-kawan tidak mau dicap sebagai aktor aji mumpung. Karena mereka melihat banyak juga actor dan artis yang terjun ke dunia akting tanpa menimba ilmu akting terlebih dahulu.


Lagipula, film yang akan mereka bintangi ini rencananya akan dikemas secara natural dan menampilkan sosok mereka apa adanya. Tapi Ridho tidak bisa menjamin apakah publik akan menyambut antusias aksi mereka di layar lebar, sama seperti saat mereka tampil di pentas dangdut.


“aku tidak bisa menjanjikan juga kualitas akting yg super. tapi pasti akan berusaha sebaik mungkinlah. kita semua akan belajar memperdalam dunia akting ini,” jelas Ridho


BIOGRAFI SONET 2 BAND

Rhoma Irama ayah dari Rhido Rhoma adalah seorang King of Dangdutz. Sejak tahun 1970-an dia sudah merilis dan menghidupkan musik dangdutz pada era itu. Hanya dengan berbekal alat musik sekadarnya, beliau telah menghadirkan musik dangdutz yang pada saat itu masih sepi peminatnya. Dengan kata lain Bang Haji telah menghadirkan Revolusi dalam bidang musik dangdutz. sejak saat itulah musik dangdutz mulai dikenal dimasyarakat bahkan seperti lagu wajib bagi masyarakat.


Kemunculan Rhido Rhoma ( Muhammad Rhido ) tidak lain adalah untuk me-Revolusi musik dangdutz agar tidak sampai mati. Dia muncul bersama Ayahnya beberapa hari yang lalu di TPI dan beberapa penyanyi dangdutz besar lainnya. Dengan lihai dia menyanyikan lagu-lagu dangdutz para penyanyi kondang dengan baik.Anak-anak muda masa sekarang sepertinya Jijik kalo mendengar musik dangdutz, tetapi kenyataan itu mungkin saat ini mulai pudar dengan munculnya SONET 2 BAND.


Sonet 2 band bener-bener merevolusi musik dangdutz. semoga Rhido Rhoma bersama Sonet 2 Band sukses selalu dan semakin membuat musik dangdutz banyak yang menyukai.

Profile KubuRan Band




Ini Dia band baru asal Bandung yang ikut meramaikan blantika musik Indonesia. Dia adalah Kuburan Band. Media musik dan panggung merupakan alat yang dirintis oleh KUBURAN.Dengan maksud tidak mengkotak-kotakan musik, KUBURAN pun mengproklamirkan genre musik ala mereka METAL HIDROLIK.KUBURAN band terbentuk pada tahun tahun 2001.


Awalnya, kuburan bermusik di jalur Independen (indie). Tahun 2006 lalu, mereka dengan berbagai rintangan, keberanian dan keyakinan, melepaskan album perdananya yang bertajuk 'Greatest Hits Vol.2'.Di album ini berisikan 14 lagu dengan berbagai jenis musik, mulai dari DANGKER (dangdut Keras) hingga musik Kolosal.


Personil KUBURAN pada album ini adalah Rully ( Penyanyi Inti ) , Iqbal (Vokalis Utama) , Urie ( Pelantun Tembang ) , Dino (Pemukul Dramer ) , Raka (Pemain Gitaris ) , Denny ( TheBassistman ) , DOnny ( Gitar is Melodi ) , Udhe ( Kiboran ).Sukses melambungkan karya-karya mereka diantaranya A Letter To Euis , Tua Tua Klabing (feat.Ratu Akay) , 23 Tahun , Kembang Sekolah , Urie Udah Gede dan lain- lain , sanggup merangsang minat masyarakat ramai untuk berapresiasi dalam musik multigenre ini .KUBURAN mampu menyuguhkan aksi panggung dan musikalitas yang tidak main-main tetapi menghibur dengan komunikasi dua arah yang terpadu , make up dan busana yang terkesan eksentrik dan tarian , akan selalu hadir dalam rangkaian aksi KUBURAN dalam pentas.Tahun 2008, Rully, Iqbal, Urie menjadi alumnus KUBURAN dengan nilai Cum Laude. Saatnya transfer vokalis baru.


Pada tahun 2009 , KUBURAN akan menelurkan album ke-2 yang bertitel : " BOOMING!!! Be Are The Kill Young Pen Think Gun Thank"Dibawah naungan Waybe Music Indonesia. Album ini berisikan 10 lagu yang ciamik , matang, dan tetap terpadu.


Personil pada album ini adalah Priya ( Ujung Tombak ) , Dino (Pemukul Dramer ) , Raka (Pemain Gitaris ) , Denny( TheBassistman ) , DOnny ( Gitar is melodi ) , Udhe( Kiboran ).Disamping mengapresiasikan kesenian pada seni musik , KUBURAN pun memiliki misi sosial dengan slogan atau moto - moto yang selalu disampaikan pada saat pentas , diantaranya Jauhi Narkoba Utamakan Keluarga , Budayakan bersedekah Minimal Donor Darah , dan Brutal tapi Taqwa !!!



Angklung
adalah alat musik tradisional Indonesia yang berasal dar Tanah Sunda, terbuat dari bambu, yang dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil. Laras (nada) alat musik angklung sebagai musik tradisi Sunda kebanyakan adalah salendro dan pelog.

Asal MuasaL Angklung



Dalam rumpun kesenian yang menggunakan alat musik dari bambu dikenal jenis kesenian yang disebut angklung. Adapun jenis bambu yang biasa digunakan sebagai alat musik tersebut adalah awi wulung (bambu berwarna hitam) dan awi temen (bambu berwarna putih). Purwa rupa alat musik angklung; tiap nada (laras) dihasilkan dari bunyi tabung bambunya yang berbentuk wilahan (batangan) setiap ruas bambu dari ukuran kecil hingga besar.
Angklung merupakan alat musik yang berasal dari Jawa Barat. Angklung gubrag di Jasinga, Bogor, adalah salah satu yang masih hidup sejak lebih dari 400 tahun lampau. Kemunculannya berawal dari ritus padi. Angklung diciptakan dan dimainkan untuk memikat Dewi Sri turun ke Bumi agar tanaman padi rakyat tumbuh subur.
Dikenal oleh masyarakat sunda sejak masa kerajaan Sunda, di antaranya sebagai penggugah semangat dalam pertempuran. Fungsi angklung sebagai pemompa semangat rakyat masih terus terasa sampai pada masa penjajahan, itu sebabnya pemerintah Hindia Belanda sempat melarang masyarakat menggunakan angklung, pelarangan itu sempat membuat popularitas angklung menurun dan hanya di mainkan oleh anak- anak pada waktu itu.



Asal usul terciptanya musik bambu, seperti angklung berdasarkan pandangan hidup masyarakat Sunda yang agraris dengan sumber kehidupan dari padi (pare) sebagai makanan pokoknya. Hal ini melahirkan mitos kepercayaan terhadap Nyai Sri Pohaci sebagai lambang Dewi Padi pemberi kehidupan (hirup-hurip).



Perenungan masyarakat Sunda dahulu dalam mengolah pertanian (tatanen) terutama di sawah dan huma telah melahirkan penciptaan syair dan lagu sebagai penghormatan dan persembahan terhadap Nyai Sri Pohaci, serta upaya nyinglar (tolak bala) agar cocok tanam mereka tidak mengundang malapetaka, baik gangguan hama maupun bencana alam lainnya. Syair lagu buhun untuk menghormati Nyi Sri Pohaci tersebut misalnya:



Si Oyong-oyong
Sawahe si waru doyong
Sawahe ujuring eler
Sawahe ujuring etan
Solasi suling dami
Menyan putih pengundang dewa
Dewa-dewa widadari
Panurunan si patang puluh



Selanjutnya lagu-lagu persembahan terhadap Dewi Sri tersebut disertai dengan pengiring bunyi tabuh yang terbuat dari batang-batang bambu yang dikemas sederhana yang kemudian lahirlah struktur alat musik bambu yang kita kenal sekarang bernama angklung. Perkembangan selanjutnya dalam permainan Angklung tradisi disertai pula dengan unsur gerak dan ibing (tari) yang ritmis (ber-wirahma) dengan pola dan aturan=aturan tertentu sesuai dengan kebutuhan upacara penghormatan padi pada waktu mengarak padi ke lumbung (ngampih pare, nginebkeun), juga pada saat-saat mitembeyan, mengawali menanam padi yang di sebagian tempat di Jawa Barat disebut ngaseuk.



Demikian pula pada saat pesta panen dan seren taun dipersembahkan permainan angklung. Terutama pada penyajian Angklung yang berkaitan dengan upacara padi, kesenian ini menjadi sebuah pertunjukan yang sifatnya arak-arakan atau helaran, bahkan di sebagian tempat menjadi iring-iringan Rengkong dan Dongdang serta Jampana (usungan pangan) dan sebagainya.



Dalam perkembangannya, angklung berkembang dan menyebar ke seantero Jawa, lalu ke Kalimantan dan Sumatera. Pada 1908 tercatat sebuah misi kebudayaan dari Indonesia ke Thailand, antara lain ditandai penyerahan angklung, lalu permainan musik bambu ini pun sempat menyebar di sana.
Bahkan, sejak 1966, Udjo Ngalagena —tokoh angklung yang mengembangkan teknik permainan berdasarkan laras-laras pelog, salendro, dan madenda— mulai mengajarkan bagaimana bermain angklung kepada banyak orang dari berbagai komunitas.



Angklung KANEKES



Angklung di daerah Kanekes (kita sering menyebut mereka orang Baduy) digunakan terutama karena hubungannya dengan ritus padi, bukan semata-mata untuk hiburan orang-orang. Angklung digunakan atau dibunyikan ketika mereka menanam padi di huma (ladang). Menabuh angklung ketika menanam padi ada yang hanya dibunyikan bebas (dikurulungkeun), terutama di Kajeroan (Tangtu; Baduy Jero), dan ada yang dengan ritmis tertentu, yaitu di Kaluaran (Baduy Luar). Meski demikian, masih bisa ditampilkan di luar ritus padi tetapi tetap mempunyai aturan, misalnya hanya boleh ditabuh hingga masa ngubaran pare (mengobati padi), sekitar tiga bulan dari sejak ditanamnya padi. Setelah itu, selama enam bulan berikutnya semua kesenian tidak boleh dimainkan, dan boleh dimainkan lagi pada musim menanam padi berikutnya. Menutup angklung dilaksanakan dengan acara yang disebut musungkeun angklung, yaitu nitipkeun (menitipkan, menyimpan) angklung setelah dipakai.



Dalam sajian hiburan, Angklung biasanya diadakan saat terang bulan dan tidak hujan. Mereka memainkan angklung di buruan (halaman luas di pedesaan) sambil menyanyikan bermacam-macam lagu, antara lain: Lutung Kasarung, Yandu Bibi, Yandu Sala, Ceuk Arileu, Oray-orayan, Dengdang, Yari Gandang, Oyong-oyong Bangkong, Badan Kula, Kokoloyoran, Ayun-ayunan, Pileuleuyan, Gandrung Manggu, Rujak Gadung, Mulung Muncang, Giler, Ngaranggeong, Aceukna, Marengo, Salak Sadapur, Rangda Ngendong, Celementre, Keupat Reundang, Papacangan, dan Culadi Dengdang. Para penabuh angklung sebanyak delapan orang dan tiga penabuh bedug ukuran kecil membuat posisi berdiri sambil berjalan dalam formasi lingkaran. Sementara itu yang lainnya ada yang ngalage (menari) dengan gerakan tertentu yang telah baku tetapi sederhana. Semuanya dilakukan hanya oleh laki-laki. Hal ini berbeda dengan masyarakat Daduy Dalam, mereka dibatasi oleh adat dengan berbagai aturan pamali (pantangan; tabu), tidak boleh melakukan hal-hal kesenangan duniawi yang berlebihan. Kesenian semata-mata dilakukan untuk keperluan ritual.



Nama-nama angklung di Kanekes dari yang terbesar adalah: indung, ringkung, dongdong, gunjing, engklok, indung leutik, torolok, dan roel. Roel yang terdiri dari 2 buah angklung dipegang oleh seorang. Nama-nama bedug dari yang terpanjang adalah: bedug, talingtit, dan ketuk. Penggunaan instrumen bedug terdapat perbedaan, yaitu di kampung-kampung Kaluaran mereka memakai bedug sebanyak 3 buah. Di Kajeroan; kampung Cikeusik, hanya menggunakan bedug dan talingtit, tanpa ketuk. Di Kajeroan, kampung Cibeo, hanya menggunakan bedug, tanpa talingtit dan ketuk.



Di Kanekes yang berhak membuat angklung adalah orang Kajeroan (Tangtu; Baduy Jero). Kajeroan terdiri dari 3 kampung, yaitu Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik. Di ketiga kampung ini tidak semua orang bisa membuatnya, hanya yang punya keturunan dan berhak saja yang mengerjakannya di samping adanya syarat-syarat ritual. Pembuat angklung di Cikeusik yang terkenal adalah Ayah Amir (59), dan di Cikartawana Ayah Tarnah. Orang Kaluaran membeli dari orang Kajeroan di tiga kampung tersebut.



Angklung Dogdog Lojor



Kesenian dogdog lojor terdapat di masyarakat Kasepuhan Pancer Pangawinan atau kesatuan adat Banten Kidul yang tersebar di sekitar Gunung Halimun (berbatasan dengan Sukabumi, Bogor, dan Lebak). Meski kesenian ini dinamakan dogdog lojor, yaitu nama salah satu instrumen di dalamnya, tetapi di sana juga digunakan angklung karena kaitannya dengan acara ritual padi. Setahun sekali, setelah panen seluruh masyarakat mengadakan acara Serah Taun atau Seren Taun di pusat kampung adat. Pusat kampung adat sebagai tempat kediaman kokolot (sesepuh) tempatnya selalu berpindah-pindah sesuai petunjuk gaib.



Tradisi penghormatan padi pada masyarakat ini masih dilaksanakan karena mereka termasuk masyarakat yang masih memegang teguh adat lama. Secara tradisi mereka mengaku sebagai keturunan para pejabat dan prajurit keraton Pajajaran dalam baresan Pangawinan (prajurit bertombak). Masyarakat Kasepuhan ini telah menganut agama Islam dan agak terbuka akan pengaruh modernisasi, serta hal-hal hiburan kesenangan duniawi bisa dinikmatinya. Sikap ini berpengaruh pula dalam dalam hal fungsi kesenian yang sejak sekitar tahun 1970-an, dogdog lojor telah mengalami perkembangan, yaitu digunakan untuk memeriahkan khitanan anak, perkawinan, dan acara kemeriahan lainnya. Instrumen yang digunakan dalam kesenian dogdog lojor adalah 2 buah dogdog lojor dan 4 buah angklung besar. Keempat buah angklung ini mempunyai nama, yang terbesar dinamakan gonggong, kemudian panembal, kingking, dan inclok. Tiap instrumen dimainkan oleh seorang, sehingga semuanya berjumlah enam orang.



Lagu-lagu dogdog lojor di antaranya Bale Agung, Samping Hideung, Oleng-oleng Papanganten, Si Tunggul Kawung, Adulilang, dan Adu-aduan. Lagu-lagu ini berupa vokal dengan ritmis dogdog dan angklung cenderung tetap.



Angklung Gubrag



Angklung gubrag terdapat di kampung Cipining, kecamatan Cigudeg, Bogor. Angklung ini telah berusia tua dan digunakan untuk menghormati dewi padi dalam kegiatan melak pare (menanam padi), ngunjal pare (mengangkut padi), dan ngadiukeun (menempatkan) ke leuit (lumbung).
Dalam mitosnya angklung gubrag mulai ada ketika suatu masa kampung Cipining mengalami musim paceklik.



Angklung Badeng



Badeng merupakan jenis kesenian yang menekankan segi musikal dengan angklung sebagai alat musiknya yang utama. Badeng terdapat di Desa Sanding, Kecamatan Malangbong, Garut. Dulu berfungsi sebagai hiburan untuk kepentingan dakwah Islam. Tetapi diduga badeng telah digunakan masyarakat sejak lama dari masa sebelum Islam untuk acara-acara yang berhubungan dengan ritual penanaman padi. Sebagai seni untuk dakwah badeng dipercaya berkembang sejak Islam menyebar di daerah ini sekitar abad ke-16 atau 17. Pada masa itu penduduk Sanding, Arpaen dan Nursaen, belajar agama Islam ke kerajaan Demak. Setelah pulang dari Demak mereka berdakwah menyebarkan agama Islam. Salah satu sarana penyebaran Islam yang digunakannya adalah dengan kesenian badeng.



Angklung yang digunakan sebanyak sembilan buah, yaitu 2 angklung roel, 1 angklung kecer, 4 angklung indung dan angklung bapa, 2 angklung anak; 2 buah dogdog, 2 buah terbang atau gembyung, serta 1 kecrek. Teksnya menggunakan bahasa Sunda yang bercampur dengan bahasa Arab. Dalam perkembangannya sekarang digunakan pula bahasa Indonesia. Isi teks memuat nilai-nilai Islami dan nasihat-nasihat baik, serta menurut keperluan acara. Dalam pertunjukannya selain menyajikan lagu-lagu, disajikan pula atraksi kesaktian, seperti mengiris tubuh dengan senjata tajam.



Buncis



Buncis merupakan seni pertunjukan yang bersifat hiburan, di antaranya terdapat di Baros (Arjasari, Bandung). Pada mulanya buncis digunakan pada acara-acara pertanian yang berhubungan dengan padi. Tetapi pada masa sekarang buncis digunakan sebagai seni hiburan. Hal ini berhubungan dengan semakin berubahnya pandangan masyarakat yang mulai kurang mengindahkan hal-hal berbau kepercayaan lama. Tahun 1940-an dapat dianggap sebagai berakhirnya fungsi ritual buncis dalam penghormatan padi, karena sejak itu buncis berubah menjadi pertunjukan hiburan. Sejalan dengan itu tempat-tempat penyimpanan padi pun (leuit; lumbung) mulai menghilang dari rumah-rumah penduduk, diganti dengan tempat-tempat karung yang lebih praktis, dan mudah dibawa ke mana-mana. Padi pun sekarang banyak yang langsung dijual, tidak disimpan di lumbung. Dengan demikian kesenian buncis yang tadinya digunakan untuk acara-acara ngunjal (membawa padi) tidak diperlukan lagi.



Nama kesenian buncis berkaitan dengan sebuah teks lagu yang terkenal di kalangan rakyat, yaitu cis kacang buncis nyengcle..., dst. Teks tersebut terdapat dalam kesenian buncis, sehingga kesenian ini dinamakan buncis.
Instrumen yang digunakan dalam kesenian buncis adalah 2 angklung indung, 2 angklung ambrug, angklung panempas, 2 angklung pancer, 1 angklung enclok. Kemudian 3 buah dogdog, terdiri dari 1 talingtit, panembal, dan badublag. Dalam perkembangannya kemudian ditambah dengan tarompet, kecrek, dan goong. Angklung buncis berlaras salendro dengan lagu vokal bisa berlaras madenda atau degung. Lagu-lagu buncis di antaranya: Badud, Buncis, Renggong, Senggot, Jalantir, Jangjalik, Ela-ela, Mega Beureum. Sekarang lagu-lagu buncis telah menggunakan pula lagu-lagu dari gamelan, dengan penyanyi yang tadinya laki-laki pemain angklung, kini oleh wanita khusus untuk menyanyi.



Dari beberapa jenis musik mambu di Jawa Barat (Angklung) di atas, adalah beberapa contoh saja tentang seni pertunjukan angklung, yang terdiri atas: Angklung Buncis (Priangan/Bandung), Angklung Badud (Priangan Timur/Ciamis), Angklung Bungko (Indramayu), Angklung Gubrag (Bogor), Angklung Ciusul (Banten), Angklung Dog dog Lojor (Sukabumi), Angklung Badeng (Malangbong, Garut), dan Angklung Padaeng yang identik dengan Angklung Nasional dengan tangga nada diatonis, yang dikembangkan sejak tahun 1938. Angklung khas Indonesia ini berasal dari pengembangan angklung Sunda. Angklung Sunda yang bernada lima (salendro atau pelog) oleh Daeng Sutigna alias Si Etjle (1908—1984) diubah nadanya menjadi tangga nada Barat (solmisasi) sehingga dapat memainkan berbagai lagu lainnya. Hasil pengembangannya kemudian diajarkan ke siswa-siswa sekolah dan dimainkan secara orkestra besar.

about EVANESENCE band




Evanescence is an American rock band founded in Little Rock, Arkansas in 1995 by singer/pianist Amy Lee and guitarist Ben Moody.[1][2]

After recording two private EPs and a demo CD named Origin, with the help of Bigwig Enterprises in 2000, the band released their first full-length album, Fallen, on Wind-up Records in 2003. Fallen sold more than 15 million copies worldwide and helped the band win two Grammy Awards.[3] A year later, Evanescence released their first live album, Anywhere but Home, which sold more than one million copies worldwide. In 2006, the band released their second studio album, The Open Door, which sold more than four million copies.

The band has suffered several line-up changes, including co-founder Moody leaving mid-tour in 2003, bassist Will Boyd in mid-2006, followed by guitarist John LeCompt and drummer Rocky Gray in 2007. The later two of the changes ultimately led the band to be on hiatus with only temporary replacements sought in order for the band to finish touring. There has been talk that Evanescence are working on a new album that could be released at the end of 2009.

History
Founding

Evanescence was founded by singer, pianist and songwriter Amy Lee and former lead guitarist and songwriter Ben Moody. The two met in 1994 at a youth camp in Little Rock, where Moody heard Lee playing "I'd Do Anything for Love (But I Won't Do That)" by Meat Loaf on the piano.[4] Their first songs together were "Solitude" and "Give Unto Me", both written by Lee, and "Understanding" and "My Immortal", both written by Moody. The songs were edited by both artists, and they shared equal credit.

Two of Lee and Moody's songs found playtime on local radio stations, raising local awareness of the group and demand for a concert. The band eventually appeared live, and became one of the most popular acts in the area. After experimenting with band names, such as Childish Intentions and Stricken, they decided on Evanescence, which means "disappearance" or "fading away" (from the word evanesce, which means "to disappear"). Lee loved the name because "it is mysterious and dark, and places a picture in the listeners' mind."

Their first full-length demo CD, Origin (released in 2000), is relatively unknown. The band also released two EPs. The first is the self-titled Evanescence EP (1998), of which about 100 copies were made and distributed at the band's early live performances. The second is the Sound Asleep EP, also known as the Whisper EP (1999), which was limited to 50 copies. Origin and the EPs contain demo versions of some of the songs on their debut album, Fallen. For example, the recording of "My Immortal", found on Fallen, can also be found on Origin, minus a handful of additional string accompaniments. Only 2,500 copies of this record were produced; in response, Lee and Moody encouraged fans to download the band's older songs from the Internet.

Fallen

In early 2003, the lineup was completed by Amy Lee and Ben Moody's friends, John LeCompt, Rocky Gray and Will Boyd, all of whom worked on Evanescence's earlier songs. Meanwhile, Evanescence signed on with their first major label, Wind-up Records, and began work on their next album, Fallen. While they were looking to promote Fallen, Evanescence accepted an offer from the video game company Nintendo to perform on the "Nintendo Fusion Tour" which they headlined in 2003.[10]

Fallen spent 43 weeks on the Billboard Top 10;[11] was certified 7x Platinum in the United States;[12] and sold more than 15 million copies worldwide,[3] including 7 million in the U.S. The album was listed for 104 weeks on the Billboard Top 200, and it was one of eight albums in the history of the chart to spend at least a year on the Billboard Top 50.[13]

Evanescence's major label debut single "Bring Me to Life", which features guest vocals from Paul McCoy of 12 Stones, was a global hit for the band and reached #5 on the American Billboard Hot 100.[14] It provided Evanescence with their first UK #1 listing,[15] where it stayed for four weeks from June-July 2003. The song also became the official theme for WWE No Way Out 2003. The equally popular "My Immortal" peaked at #7 in the U.S. and UK charts,[14] and both songs were featured in the soundtrack for the action movie Daredevil. "Bring Me to Life" garnered recognition for the band at the 46th Grammy Awards in 2004, where they won the Best Hard Rock Performance and Best New Artist awards and were nominated for two others.[16] The two other singles off Fallen are "Going Under" (#5 U.S. Modern Rock Tracks,[14] #8 UK Charts) and "Everybody's Fool" (#36 U.S. Modern Rock Tracks,[14] #23 UK Charts); all were promoted by a music video.

Anywhere but Home

In 2004, Evanescence's new lineup released a DVD/CD compilation entitled Anywhere but Home. The DVD includes a concert in Paris, as well as behind-the-scenes features, including shots of the band backstage signing autographs and warming up. The CD contains a previously unreleased song entitled "Missing", which was internationally released as a single and reached #1 in Spain. Also on the CD are the live songs "Breathe No More" (from the Elektra movie soundtrack), "Farther Away", and the band's cover of Korn's

The Open Door

To promote the band's third album, The Open Door, Amy Lee and John LeCompt visited cities in Europe including London, England on September 6, 2006; Barcelona, Spain on September 8, 2006; and Paris, France on Monday, September 11, 2006. At the previews, the new album was played to fans who won various competitions, Lee and LeCompt answered questions and performed acoustic versions of songs from the album before signing autographs. On October 2, 2006, the day before the album was released in the United States, Evanescence appeared on Late Night with Conan O'Brien and performed the song "Call Me When You're Sober". The band also spent time in New York City for press and a photo shoot for Metal Edge magazine.[17]

The 13-track album was released in Canada and the United States on October 3, 2006;[11] the United Kingdom on October 2, 2006; and Australia on September 30, 2006.[18] The album sold 447,000 copies in the United States in its first week of sales and earned their first #1 ranking on the Billboard 200 album chart, becoming the 700th #1 album in Billboard since the chart became a weekly feature in 1956.[13]
Evanescence performing at a concert in Brazil in 2007

The album progressed slowly for several reasons, including Amy Lee's desire to maximize the creative process and not rush production, other band members' side projects, guitarist Terry Balsamo's stroke, and the loss of their former manager.[19] Although Lee stated on the fan forum Evboard that Evanescence's new album would be completed in March 2006,[20] the release was pushed to October 3, 2006, allegedly because "Wind-up Records...wanted to make a few changes to the upcoming single "Call Me When You're Sober", which hit modern rock and alternative rock radio on August 7, 2006.[21] The music video for "Call Me When You're Sober" was shot in Los Angeles and is based on the fairy tale Little Red Riding Hood. The Open Door became available for pre-order on the iTunes Store on August 15, 2006; the music video for "Call Me When You're Sober" was also made available.

Lee claimed that she wrote a song for the 2005 film The Chronicles of Narnia: The Lion, the Witch and the Wardrobe, but that it was rejected due to its dark sound. Lee went on to state that it was just "more great stuff for [The Open Door]"".[22] Another song supposedly written for Narnia was the Mozart-inspired "Lacrymosa".[17] The producers of Narnia, however, refuted her claim, stating this information was "news to them" and that no Evanescence music had been planned for inclusion in the soundtrack.[23]

The tour for The Open Door began on October 5, 2006 in Toronto and included locations in Canada, the U.S. and Europe during that year. This first tour continued on January 5, 2007 and included stops in Canada (alongside band Stone Sour), Japan and Australia (alongside band Shihad) and then returned to the U.S. for a second tour in the spring (alongside bands Chevelle and Finger Eleven).[24][25] As part of their tour, Evanescence performed on April 15, 2007 on the Argentinan festival Quilmes Rock 07 along with Aerosmith, Velvet Revolver and other local bands.[26] They also co-headlined on the Family Values Tour 2007 along with Korn and other bands.[27][28] The group closed their European tour with a sell-out concert at the Amphi in Ra'anana, Israel, on June 26, 2007,[29] and finished the album tour on December 9, 2007.

Lineup changes
John LeCompt, former Evanescence guitarist



On October 22, 2003, Moody left the band during the European tour for Fallen, reportedly because of creative differences.[31] In an interview several months later, Amy Lee said: "...we'd gotten to a point that if something didn't change, we wouldn't have been able to make a second record." This became a point of confusion for some people, as Moody and Lee stated on the Fallen album liner notes that they were best friends.[32] Later, Lee said it was almost a relief that he left because of tensions created within the band.[32] Moody was replaced by Terry Balsamo from Cold.[33]

A spokesperson for the band's label confirmed on July 14, 2006 that bassist Will Boyd had left the band for "not wanting to do another big tour" and wanting "to be close to his family." Amy Lee originally broke the news to the fans in a post on an unofficial Evanescence site, EvBoard.com.[34] In an interview with MTV, posted on their website on August 10, 2006, Lee announced that Tim McCord, former Revolution Smile guitarist, would switch instruments and play bass for the band.[35]

On May 4, 2007, John LeCompt announced that he had been fired from Evanescence, and also stated that drummer Rocky Gray had decided to quit.[36] On his MySpace blog, LeCompt stated that Lee called his cellphone to fire him, and that no warning had previously been given nor were any negotiations made available.[37] Gray later released a statement on his MySpace stating that he was served a gag order by label Wind-up which prevents him from discussing the reasons for his departure from the band.[38] On the band's official website, Lee wrote that the band was still alive and that no tour events had been canceled or changed.[39]

Wind-up issued a press release on May 17, 2007, stating that two Dark New Day members, drummer Will Hunt and guitarist Troy McLawhorn, would be joining the band to replace LeCompt and Gray.[40] However, Lee wrote on the EvThreads.com forum that "We're just borrowing Will and Troy for a while" and that they would not be leaving Dark New Day.[41] It was initially stated that Hunt and McLawhorn would tour with Evanescence until the end of the Family Values Tour in September 2007,[42] but both continued to play with the band through The Open Door tour

Style

Critics vary in terming Evanescence a rock or metal band, but most identify them as some form of gothic band: Publications such as the New York Times, Rough Guides, Rolling Stone, Blender and The Metal Observer have identified Evanescence as a gothic metal act,[43][44][45][46][47] while other sources such as NME, MusicMight, IGN and Popmatters have termed them gothic rock.[48][49][50][51] They have been compared to a variety of bands from differing genres, such as nu metal ensembles like P.O.D. and Linkin Park,[52][53] gothic metal groups like Lacuna Coil and Within Temptation,[54][55] and symphonic metal acts like Nightwish.[56] Cammila Albertson of Allmusic counts Evanescence as one step further from gothic metal, presenting the description of the band's music as "a pop version of an already diluted brand of metal."[57] Critic Bill Lamb of About.com tags the group succinctly as "pop-goth",[58] while David Browne of Blender offers a more elaborate description of the band's music as "goth Christian nĂ¼-metal with a twist of melancholic Enya."[59] Babbet Jahn of Metal Observer also notes the nu metal influence in their music,[47] and Adrien Begrand of Popmatters describes Evanescence as utilising "nu-metal riffage".[51] Other genres and influences used to describe the band’s sound include alternative metal,[60][49] alternative rock,[49][61] hard rock,[49] post-grunge,[62] pop,[62] and electronica.[48]

The band's relationship with heavy metal music is not without controversy. Vocalist Fernando Ribeiro of Moonspell contends that Evanescence is not a metal band.[63] In contrast, Aaron Stainthorpe of My Dying Bride feels that Evanescence is doing something similar to his own gothic metal group, only in a more commercial direction.[64] Gregor Mackintosh of Paradise Lost notes a generation gap between his group and Evanescence, suggesting that Paradise Lost has only influenced Evanescence indirectly through other acts like Lacuna Coil.

"Christian rock" controversy

Originally promoted in Christian stores, the band eventually made it clear they did not want to be considered part of the Christian rock genre. Wind-up Records chairman Alan Meltzer issued a press release in April 2003 asking for the band's music to be removed from Christian retail outlets.[66]

During a 2003 interview with Entertainment Weekly, Ben Moody stated, "We're actually high on the Christian charts, and I'm like, What the f--k are we even doing there?"[67] This seemed to go against earlier sentiments by Moody that "We hope to express in our music that Christianity is not a rigid list of rules to follow..." and also "The message we as a band want to convey more than anything is simple—God is Love."[68] This led to criticism of the band within the Christian community, even more so given that the band themselves approved of the plan to distribute Fallen to the Christian market.[69] Terry Hemmings, CEO of Christian music distributor Provident, expressed puzzlement at the band's about-face, saying "They clearly understood the album would be sold in these [Christian music] channels."[70] In the wake of the controversy, "Bring Me To Life" was dropped by many Christian radio stations; the song was Top 5 on Radio & Records' Christian Rock Top 30 one week, and completely gone the next. Ex-vocalist and keyboardist David Hodges eventually left the band over the controversy, with other members stating that he had been pulling them in more of a Christian direction than Lee and Moody were comfortable with.


When asked by Billboard in 2006 if Evanescence was a "Christian band," Amy Lee responded, "Can we please skip the Christian thing? I'm so over it. It's the lamest thing. I fought that from the beginning; I never wanted to be associated with it. It was a Ben thing. It's over

(Lagu) IndoNesian Pop

DERBY - Tuhan Tolong
Efek Rumah Kaca - Kenakalan Remaja
T2 - Jangan Lebay
Samson - Hening

Viera - DengaRkan CuRhatku
Steven And CoCoNut Trees - Santai
Maia feat. Cinta Laura - PenghianaT Cinta


another Indonesian pop Song's

koes Plus - Why Do You Love Me


Why Do You Love Me

The times has come That we must be apart The memory is still in my mind But you have gone And you leave me alone

[Reff]
Why do you love me, so sweet, and tenderly
I’ll do everything, to make you happy
Huu… U..u….

But now everything
It’s only a dream
A dream that never comes
I only wait
Till trus love will come

[Reff]

But you have gone, and you leave me alone

[Reff] (2x)

30 Second to Mars - From Yesterday

From Yesterday (click here to download)


He's a stranger to some
And a vision to none
He can never get enough,
Get enough of the one

For a fortune he'd quit
But it's hard to admit
How it ends and begins
On his face is a map of the world
(A map of the world)
On his face is a map of the world
(A map of the world)
From yesterday, it's coming!
From yesterday, the fear!
From yesterday, it calls him
But he doesn't want to read the message here

On a mountain he sits, not of gold but of shit
through the blood he can look, see the life that he took
From council of one
He'll decide when he's done with the innocent

On his face is a map of the world
(A map of the world)
On his face is a map of the world
(A map of the world)

From yesterday, it's coming!
From yesterday, the fear!
From yesterday, it calls him
But he doesn't want to read the message
He doesn't want to read the message
Doesn't want to read the message here

On his face is a map of the world

From yesterday, it's coming!
From yesterday, the fear!
From yesterday, it calls him
But he doesn't want to read the message here
From yesterday,
From yesterday,
From yesterday, the fear
From yesterday,
From yesterday
But he doesn't want to read the message
But he doesn't want to read the message
But he doesn't want to read the message here